Abdul Kadir Muhammad (AKM) Sang Generator Dakwah Dari Surabaya

 

Ustadz Abdul Kadir Muhammad (AKM) merupakan sosok istimewa yang hendak kita kupas riwayat dan jejak perjuangannya pada kesempatan kali ini. Ustadz Kadir lahir di sepanjang, tumbuh besar di surabaya, merantau untuk melaksanakan amanat tugas di sumenep madura, menempuh perjalanan spiritual di maluku tenggara, merintis amal usaha pesantren modern di panarukan, mengembangkan lembaga pendidikan islam di pulau kangean, kembali ke sumenep hingga akhirnya beliau berpulang ke rahmatullah pada tahun 1983, dikebumikan di pekuburan keluarga Asta Tinggi berdampingan dengan makam istrinya R Fatimatuz Zuhra Binti R. Tajibuddin Djajengsastro.

Abdul Kadir Muhammad (AKM) lahir di Sepanjang 22 Pebruari 1916, tumbuh besar di kalangan keluarga pesantren Ampel Sawahan Surabaya, AKM mengenyam pendidikan dasar diniyah di madrasah mufidah yang dirintis sang paman KH Mas Mansur hingga beberapa tahun kemudian mendapat surat penugasan Ke Pulau Madura sebagai tenaga pengajar di Madrasah yang dirintis oleh R Musa’et Werdisastro seorang Budayawan Penulis Babad Sumenep. Di Sumenep jiwa pergerakan AKM terpanggil dan semakin bergelora, beliau tercatat telah aktif dan berkiprah sebagai salah satu motor dan pimpinan Hizbul Wathan, sebuah organisasi sayap Muhammadiyah di Sumenep Pada Tahun 1940.

Perihal awal mula keberadaan Ustadz Abdul Kadir Muhammad (Ustadz Hakam) di Sumenep ada diceritakan dalam sebuah catatan Otobiografi Muhammad Saleh Werdisastro (MSW) bahwa beliau adalah tenaga pengajar yang dikirimkan secara khusus oleh KH Mas Mansur atas permintaan R Musa’et Werdisastro untuk memperkuat amal usaha Muhammadiyah yang baru berkembang di Sumenep sekaligus sebagai Ustadz yang diberi amanah khusus untuk mengajar agama di lingkungan keluarga besar sang budayawan penulis Babad Sumenep tersebut.

Keberadaan Ustadz Hakam di Sumenep sejak tahun 1934 dikuatkan melalui pernikahannya beberapa tahun kemudian dengan Cucu R Musa’et Werdisastro yang bernama Fatimatuz Zuhra, dari pernikahan tersebut keduanya oleh Allah SWT dikarunia 15 orang putra-putri.

Ustadz Hakam Bersama dengan R. Muhd Saleh Werdisastro dan R. Muhd Ali Sastronegoro yang tidak lain merupakan putera dan kemenakan R. Musa’et Werdisastro menjadi tiga serangkai yang saling bahu membahu memberikan kontribusi nyata dalam pertumbuhan pergerakan dakwah dan amal usaha Muhammadiyah di Pulau Madura khususnya di Sumenep.

Dalam menyikapi perbedaan corak keberagamaan Ustadz Hakam selalu menekankan pentingnya mencari persamaan serta memperkuat ukhuwah wathoniah diantara ummah. Ustadz Hakam sangat peduli terhadap pendidikan kaum pribumi sehingga beliau juga merancang Home Schooling serta membuat sebuah perpustakaan dengan koleksi buku — buku pribadinya yang terbilang sangat banyak untuk ukuran perpustakaan pribadi.

Selain aktif berdakwah ustadz hakam juga meniti karir dari bawah di lingkungan Departemen Agama, pada pertengahan tahun lima puluhan ditugaskan sebagai kepala Kantor Urusan Agama Maluku Tenggara, sekembalinya dari tanah Maluku cita –citanya makin menguat untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis agama, pada periode tahun enam puluhan beliau dipercaya untuk mengembangkan Pondok Pesantren Modern Panarukan dan mulai merintis pengembangan dakwah di pulau — pulau kecil di sekitar Madura, terakhir KH Abdul Kadir Muhammad menjadi Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Modern Islam (YPPMI) Pulau Kangean dan terus berdakwah hingga akhir hayatnya.

Dokumentasi Pembangunan Yayasan Pondok Pesantren Modern Islam (YPPMI) di Pulau Kangean

 

(Sebuah Catatan Untuk Sebuah Nama, Badrut Tamam Gaffas)

LihatTutupKomentar