Panggilan Jiwa Sang Pangeran Champa

Ilustrasi Kawasan Ampel Denta di Kota Surabaya

 

Sayyid Ali Rahmatullah sejatinya adalah Pangeran Champa, sebuah risalah dari kotaraja Majapahit meneguhkan niatnya untuk hijrah ke salah satu medan “pergerakan” paling menantang di nusantara yakni Tanah Jawa.

Pada masa Prabu Brawijaya V memerintah Kerajaan Majapahit terdapat sebuah fase dimana kerajaan diliputi bayang-bayang kemunduran yang menjadikan sang raja menjadi kalut dan larut dalam kegundahan, bukan hanya dampak kemerosotan moral yang banyak dikeluhkan namun negeri itu kini diambang perebutan tahta diantara sesama pewaris singgasana belum lagi ancaman invasi dari kerajaan seberang yang datang membayang mengingat Majapahit adalah salah satu negeri besar di tlatah Nusantara yang banyak diincar untuk ditaklukkan.

Ditengah gundah gulana itulah sang raja bersedia mendengarkan kisah serupa dari sang permaisurinya yang berasal dari negeri champa, betapa sang Maharaja Champa berada diambang kebimbangan karena tak kunjung menemukan solusi atas permasalahannya sehingga terpaksa menitahkan sebuah sayembara yang akhirnya dimenangkan oleh seorang pangeran dari negeri Samarkand yang bernama Sayyid Ibrahim Zainuddin Al Akbar.

Sang Pangeran yang lebih dikenal sebagai Ibrahim As-Samarkandi ternyata tidak sekedar ahli herbal dan pengobatan melainkan juga cakap dan pandai memberikan solusi atas permasalahan politik dan pemerintahan yang tengah dihadapi negeri champa, pada akhirnya Al-Ghazi Ibrahim As-Samarkandi diangkat sebagai penasehat dan dijadikan menantu kerajaan.

Dalam realitasnya seringkali terjadi pengulangan atas sejarah atau istilahnya berlangsung dalam versi yang berbeda ; serupa tapi tak sama.
Paparan permaisuri dwarawati kali ini cukup mengena dan sukar untuk dibantah. Mau tidak mau masa depan kebesaran Majapahit berada diatas segala-galanya dan harus bisa diselamatkan. Tidak banyak opsi yang bisa dipilih, Prabu Brawijaya kemudian memutuskan untuk mengikuti saran permaisuri dan bersegera mengirim utusan khusus ke negeri champa dengan membawa secarik “proposal” dari permaisuri dwarawati.

Gayung bersambut dan Suratpun Berbalas, demi mendengar prahara yang terjadi di tanah Jawa maka dengan segala analisa dan pertimbangan pada akhirnya kerajaan champa yang selama ini berkongsi karena ikatan perkawinan dengan Majapahit memutuskan untuk mengirimkan utusan yang terbaik yakni sang pangeran kerajaan dalam sebuah misi sosial dan kemanusiaan.

Sebagai seorang Pangeran Champa Sayyid Ali Rahmatullah tidak hanya membekali dirinya dengan ilmu pengobatan melainkan juga membentengi dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan, sebagaimana ayahnya beliau juga dikader, ditempa dan dipersiapkan untuk menjadi pelanjut dakwah di tanah Jawa.

Setibanya di Majapahit Sang Pangeran segera menghadap kepada prabu Brawijaya dan bibinya permaisuri Dwarawati. Berbekal informasi yang diterima serta fakta yang berhasil dihimpunnya maka Raden Rahmat secara terbuka menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil dalam ikhtiarnya mengatasi permasalahan di Majapahit.

Pertama, Raden Rahmat mencari sebuah daerah yang jauh di pinggiran kota untuk mendirikan sebuah langgar sederhana untuk beribadah juga dikhususkan untuk terapi pengobatan. Dipilihnya daerah yang dekat aliran sungai dan rimbun ditumbuhi pepohonan diantaranya kembang-kembang cantik berwarna kuning sehingga kelak daerah tersebut dinamakan kembang kuning.

Langgar bambu yang konon dibangun dalam waktu semalam dan dijuluki langgar tiban digunakan untuk mengobati warga masyarakat yang terpapar wabah, selain menggunakan racikan herbal dari aneka tetumbuhan sekitar juga dibuatlah secara khusus padusan-padusan dari tanah liat untuk mandi dan menyucikan diri. Masyarakat yang terjangkit wabah dikarantina di daerah kembang kuning tersebut sampai benar-benar sembuh. Diajarkan pula kepada mereka agar beralih mengkonsumsi makanan sehat yang halal dan baik mengganti pola kebiasaan mereka yang secara turun temurun menyukai memakan beberapa hewan yang berkategori melata dan beracun.

Padusan dari tanah liat merupakan jejak yang terserak, sebuah inovasi yang diperkenalkan oleh Raden Rahmat untuk mengajar dan menanamkan budaya bersuci di tengah negeri yang terpapar wabah penyakit. Kini Padusan tanah liat, kolam dan sumur untuk bersuci hampir selalu bisa kita jumpai di semua situs peninggalan Raden Rahmat dan para pelanjutnya.

Kedua, Raden Rahmat secara khusus meminta tanah perdikan untuk dibangun kompleks pesantren yang nantinya selain menjadi tempat untuk mengajarkan agama dan Budi pekerti kepada masyarakat juga sebagai bengkel akhlak dan moral bagi para bangsawan Kerajaan.
Padepokan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pesantren Ampel Denta yang terkenal sebagai salah satu episentrum penggerak dakwah di Nusantara.

Ketiga, mengkampanyekan program moh limo sebagai solusi untuk mengatasi penyakit masyarakat (Pekat)

Demikian sekilas gambaran perjuangan Sang Pangeran Champa yang berkat iradat dan pertolongan ilahi Rabbi pada akhirnya berhasil menjawab tantangan yang diberikan kepadanya. Sang Pangeran yang bergelar Raden Rahmat tersebut dikenal luas sebagai Kanjeng Sunan Ampel, Gurunya Para Wali yang wafat dan dimakamkan di Ampel Denta Surabaya.

Sekian dan Semoga Bermanfaat.

(Sebuah Catatan Oleh Badrut Tamam Gaffas)

LihatTutupKomentar