![]() |
| Ilustrasi : Kerapan Sapi Madura Warisan Pangeran Katandur (sumber : https://www.deviantart.com/iborart/art/Karapan-Sapi-537152429) |
Pangeran Katandur atau dikenal dengan nama lengkap As-sayyid al-Habib as-Syekh Ahmad Baidhawi bin Shaleh al-Badawi al-Husaini adalah seorang tokoh agama yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Sumenep, Madura. Dari jalur ayahnya bernama Panembahan Pakaos, Ia merupakan cucu dari Sayyid Ja'far Shodiq yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, salah seorang anggota walisongo yang pada masanya pernah menduduki jabatan penting sebagai Panglima Perang Kesultanan Demak Bintoro.
Tidak ada catatan yang secara spesifik menyebutkan ihwal kedatangan Pangeran Katandur ke Sumenep namun diperkirakan berlangsung pada kurun abad 16 atau awal abad 17.
Keberadaan Pangeran Katandur di Sumenep seringkali dikaitkan dengan misi penugasan dari dewan walisongo yang pada saat itu berpusat di Giri Kedaton untuk melanjutkan proses islamisasi yang sedang berlangsung di Pulau Madura.
Peran Pangeran Katandur dalam Pertanian:
Pangeran Katandur terkenal sebagai ulama yang berdakwah melalui bidang pertanian, sehingga mendapatkan gelar "Katandur" yang berasal dari kata "nandur" dalam bahasa Jawa, yang artinya menanam. Di masa ketika tanah Sumenep cenderung tidak subur dan ketahanan pangan sangat lemah, Pangeran Katandur menggunakan keahliannya dalam pertanian untuk membantu masyarakat. Ia mengajarkan cara-cara bercocok tanam yang efektif, mengubah lahan-lahan tandus menjadi produktif, dan menyebarkan ajaran Islam secara bertahap sambil bekerja bersama petani. Kedekatan ini memungkinkan Pangeran Katandur untuk membangun kepercayaan serta meyakinkan masyarakat bahwa Islam merupakan agama yang terbukti mampu memberikan manfaat yang nyata dalam kehidupan masyarakat. Kisah populer menceritakan bahwa tanaman yang ia tanam bisa berbuah dalam waktu yang sangat singkat, memberikan kesan keramat pada dirinya.
Dakwah dan Pengaruh Agama:
Dengan pendekatan dakwah yang inovatif, Pangeran Katandur menarik banyak masyarakat ke dalam ajaran Islam. Ia tidak hanya mengajarkan cara bertani tetapi juga memperkenalkan ajaran-ajaran Islam melalui aktivitas sehari-hari ini. Keberhasilan dakwahnya ditandai dengan banyaknya masyarakat yang datang untuk belajar dari beliau, menjadikan Sumenep sebagai salah satu pusat keislaman di Madura Timur.
Makam dan Warisan Budaya:
Makam Pangeran Katandur berada di Desa Bangkal, Kecamatan Kota Sumenep, dan menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang, terutama di malam Jumat dan bulan Ramadan. Makam ini dikenal dengan nama Asta Katandur dan merupakan bagian dari kompleks pemakaman yang juga menampung makam keluarganya. Astana Katandur ini berkembang sebagai salah satu obyek destinasi wisata religi selain Astana Yusuf di Talango, Masjid Jamik Sumenep dan Makam Raja Raja Sumenep di Asta Tinggi.
Peninggalan dan Pengaruh:
Pangeran Katandur meninggalkan warisan yang luas, termasuk dalam bidang pertanian, keagamaan, dan budaya. Keturunan beliau banyak yang menjadi ulama dan umara di Sumenep, memberikan kontribusi terhadap perkembangan sosial dan keagamaan daerah ini. Tradisi karapan sapi, yang merupakan simbol kebanggaan Madura, juga dikaitkan dengan pengaruhnya dalam menginspirasi petani untuk mengolah tanah dengan cara yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Pangeran Katandur adalah contoh dari bagaimana seorang tokoh agama dapat mempengaruhi dan mengubah masyarakat melalui pendekatan praktis yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Nama beliau tidak hanya dikenang sebagai ulama yang berdakwah melalui tanah tetapi juga sebagai pemimpin yang memberikan solusi nyata bagi masalah sosial dan ekonomi pada masanya. Pengaruhnya terasa hingga sekarang, menjadikan beliau sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah dan budaya Sumenep.
Kombinasi dari metode dakwah yang inovatif, kedekatan dengan masyarakat, dan prestise religius membuat Pangeran Katandur memiliki peran monumental dalam penyebaran Islam di Sumenep, yang efeknya masih terasa hingga hari ini.
(Posting By Teras Sejarah/Sejarah Islam di Madura)

