Langgar Gipo awalnya merupakan langgar keluarga H. Abdul Latief Tsaqifuddin (Sagipodin), dibangun pada tahun 1629 dan berlokasi di Jalan Kalimas Udik No. 51 Ampel Surabaya. Keberadaannya kini menjadi museum dan cagar budaya bagian dari sejarah perjuangan bangsa di Kota Surabaya.

Pada masa-masa pergerakan langgar ini dijadikan tempat musyawarah, menggelar forum diskusi kebangsaan serta menjadi saksi gigihnya perlawanan kaum santri dalam membentengi Republik menghadapi balatentara pendudukan jepang serta melawan agresi pendudukan sekutu yang membonceng NICA.
Langgar Gipo punya andil dalam membidani berdirinya Taswirul Afkar, Nahdlatul Wathan, Nadhlatut Tujjar dan menjadi cikal bakal lahirnya tokoh-tokoh pergerakan baik dari kalangan Nadhlatul Ulama maupun dari kalangan Muhammadiyah. Dua ormas besar dengan kontribusi yang nyata dalam mewarnai dinamika politik, ekonomi, sosial dan agama di nusantara tercinta.
Di areal langgar ini terdapat bunker yang berada di sisi luar dekat tempat wudhu, ruang bawah tanah tersebut semula diperuntukkan sebagai gudang penyimpanan namun diperkirakan sempat dipergunakan sebagai tempat persembunyian laskar pejuang pada saat pecah pertempuran surabaya. Langgar Gipo ini juga pernah menjadi salah satu destinasi jamaah haji pada masa lalu tatkala pemberangkatan masih menggunakan kapal laut, selain menjadi tempat manasik langgar ini juga digunakan sebagai transit sebagian jamaah sebelum diberangkatkan ke tanah suci melalui pelabuhan ujung perak surabaya.
Saat ini Langgar Gipo telah melintasi periode 5 abad (1629–2024), telah menjadi saksi bisu dari pelbagai peristiwa penting nan bersejarah serta ahli keturunannya telah sampai kepada generasi ke-7. Jika mengacu pada perhitungan nasab maka saya termasuk generasi ke-6 Bani Gipo dari jalur kakek Abdul Kadir Muhammad (AKM), AKM yang lahir di Sepanjang dan wafat di Sumenep Madura merupakan keturunan ke 4 Sagipodin, penulisan nasabnya adalah sebagai berikut : Abdul Kadir Muhammad Bin KH. Mas Muhammad Bin KH Mas Ahmad Marzuki + Hj. Raudhah Binti H. Tarmidzi Bin H. Abdul Latief Tsaqifuddin (Sagipodin). Mbah Kadir (AKM) yang menjadi yatim sejak kecil kemudian tumbuh dalam asuhan dan bimbingan pamanda KH. Mas Mansur yang selanjutnya menugasinya ke Sumenep untuk mengajar di Madrasah Diniyah yang didirikan oleh Raden Musaid Werdisastro seorang tokoh budayawan penulis Babad Sumenep yang banyak memberi perhatian bagi kemajuan dakwah islam di ujung timur Pulau Madura.
Ahli Keluarga dan Keturunan Bani Gipo (Sagipodin) saat ini diwadahi dalam sebuah ikatan keluarga besar sagipodin (IKSA), setiap tahunnya secara rutin digelar reuni dan halal bil halal keluarga besar Sagipodin untuk meneguhkan pandangan dan cita-cita perjuangan para pendahulu dengan dedikasinya yang sangat besar untuk agama, bangsa dan negara.
Kiranya jargon “Sagipodin For Indonesia” bukan isapan jempol belaka!
(sebuah catatan untuk sebuah nama by Badrut Tamam Gaffas a.k.a maslumajang)